Menelusuri Bisnis Prostitusi Berkedok Refleksi Kesehatan Di Toddopuli Makassar


MAKASSAR, LINTASSULSEL – Kawasan Toddopuli Makassar, selain dikenal lokasi yang dipenuhi warung kopi (warkop), juga populer dengan sebutan area ‘Surga Pria Hidung Belang’.

Toddopuli merupakan nama jalan di kecamatan Panakkukang kota Makassar. Tepat di kawasan ruko, terdapat belasan panti pijat. Dari luar, terdapat papan penanda ‘Refleksi Kesehatan Pria dan Wanita’.

Jika petang tiba, lampu warna-warni menghias pinggir gedung tersebut. Dari luar tampak normal saja. Tapi di dalamnya, bau prostitusi terasa dengan jelas.

Setidaknya, hal itu diungkapkan salah-satu pemuda yang sempat mencicipi tempat ini. ia bahkan blak-blakan pernah masuk dan menikmati sajian panti pijat itu.

“Saya pernah ke sana, beberapa kali sih. Jadi saat kita masuk, kita akan ketemu resepsionis. Di depannya, terdapat belasan foto gadis cantik. Lalu kita pilih salah satunya,” terang pria yang minta namanya dirahasiakan.

Pasca itu, kata dia, pelanggan akan dipersilahkan naik di lantai dua. Suasananya remang-remang dan terdapat beberapa bilik kamar. Pelanggan lalu diantar masuk ke salah satu bilik.


“Gelap bro, pintunya dari gorden saja, dan suara musik keras, jadi orang di sebelah kita tak terdengar lagi ngapain. Karena kayaknya tanpa atap, hanya dinding tripleks saja,” tandasnya.

Tak lama berselang, seorang perempuan langsung masuk ke kamar. Ia pun tak melihat wajah perempuan itu, saking gelapnya. Pria itu juga mengaku dalam kisahnya, langsung diminta untuk melepas baju dan celana, termasuk pakaian dalamnya.

“Iya, semua minta dilepas. Lalu kita diberi handuk kecil. Setelah itu kita diminta untuk baring, perempuan itu langsung memijat dengan cream,” katanya.

“Rasa pijitnya gak ada, hanya kaya di elus-elus saja. Bahkan sesekali perempuan itu sentuh kelamin kita, sampai di tarik-tarik lagi,” cerita ex pelanggan sembari tertawa.

Setelah 30 menit, perempuan itu langsung menawarkan plus-plus dengan dengan berbagai tarif.

“Saat itu saya pilih main, mau gimana lagi kalo sudah pengen” pungkas pria tersebut.

Usai mendengar kisah itu, penulis lalu mencoba mengunjungi langsung lokasi yang diduga tempat prostitusi itu, tepatnya di Pesona Refleksi.

Dari depan, tampak ruang resepsionis agak ke dalam. Dan sejumlah motor terparkir di depannya. Saat masuk, di depan resepsionis terdapat belasan foto gadis seksi dan cantik. Beberapa diantaranya ditutupi tutup botol, pertanda sedang melayani pelanggan lain.

“Silahkan pak, tinggal dipilih. Yang ini bagus nomor 3 (sambil menunjuk foto),” kata resepsionis.

Soal tarif, perempuan di balik meja itu menyebut harga 70 ribu per jam. Penulis juga sempat menanyakan boleh tidaknya untuk ‘main’ dengan wanita dalam foto tersebut. Sontak resepsionis itu melotot dan melempar tanya dengan nada tinggi.

“Maksudnya ?” tanyanya

“Kalau yang begituan nda usah ditanya pak, karena privasi. Nanti kalo di atas juga anda mengerti,” jawab resepsionis bernada mengambang.

Tak mendapat jawaban pasti, penulis pun meminta konfirmasi dari camat Panakukang, M Tahir, terkait keberadaan bisnis panti pijat ini. Khusus di kecamatan Panakkukang, Ia menyebut sekitar 20 lebih usaha panti pijat dan refleksi.

“Kalau pijat kesehatan, ada memang beberapa dalam wilayah Panakkukang, kurang lebih 20 an, termasuk refleksi,” jelas Tahir saat dihubungi via Whatsapp, Senin.

Terkait dugaan operasi prostitusi berkedok jasa kesehatan, ia mengaku belum menerima laporan soal itu. Camat Panakkukang itu pun menyebut akan mengecek di lapangan. Pasalnya, keterangan ijin yang masuk di kantornya hanya pijat kesehatan.

“Saya akan melakukan pengecekan. Rekomendasi ijin yang ada adalah untuk pijat refleksi dan pijat kesehatan, tidak ada pijat plus,” pungkas M Tahir.

Lain halnya dengan Fahri, salah seorang pengunjung warkop Focus, tempat nongkrong pas samping Pesona refleksi. Ia menyebutkan kerap melihat perempuan seksi di malam dan sore hari.

“Biasa ada lewat keluar masuk, perempuan berpakaian mini di tempat (refleksi itu). Katanya orang sih begitu (prostitusi). Tapi saya belum pernah masuk ke situ,” tutup Fahry sembari terkekeh.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan